Kewibawaan (Gezak) dalam Pendidikan

1. Pengertian Kewibawaan
Konsep kewibawaan diapnosi dari bahasa Belanda yaitu ‘gezak’yang berasal dari kata ‘zeggen’ yang berarti ‘berkata’.Siapa perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain,berarti mempunyai kewibawaanatau gezak terhadap orang lain.Gazak atau kewibawaan itu pada orang dewasa,terutama pada orang tua.Kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) adalah asli.Orang tua dengan langsung mendapat tugas secara natural dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya,suatu hak yang tidak dapat dicabuk,karena terikat oleh kewajiban.Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu,keduanya tidak dapat dipisahkan.
Dalam pengertian umum kewibawaan sering pula diartikan sebagai sesuatu kelebihan yang dimiliki seseorang.Dengan kelebihan yang dimilikinya ia dihargai,dihormati,disegani,bahkan ditakuti oleh orang lain atau kelompok masyarakat tertentu.Kelebihan itu bias saja dalam berbagai dimensi yang dipunyai seseorang,mungkin karena ilmu/keahlian atau kepintarannya,kekayaannya,kekuatannya,kecakapannya,sifatnya,dan perilakunya 9kepribadian).
Kewibawaan yang dipunyai orang tua dengan kewibawaan yang dimiliki guru dalam pendidikan tentu saja ada kesamaan dan perbedaannya.Orang tua (ayah dan ibu) adalah pendidik yang pertama dan utama dan sudah semestinya.Mereka adalah pendidik alami dan asli yang menerima tugas secara kodratdari Tuhan untu mendidik anak-anaknya.Karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaanterhadap anak-anaknya.
Kewibawaan orang tua dapat dilihat dari dua sisi,yaitu
a. Kewibawaan Pendidikan
Kewibawaan dalam hal ini,orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya,agar mereka dapat hidup terus,dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa.Perbawa pendidikan itu berakhir jika anak itu sudah menjadi dewasa.Nasehat-nasehat yang dimintanya atau diterimanya dari orang tua meskipun orang yang meminta atau menerima nasehat itu sudah dewasa,itu juga baik,dan banyak juga yang dituruti,tetapi hal itu hendaknya timbuldari hati yang tulus ikhlas,tidak karena sesuatu keharusan.
b. Kewibawaan keluarga
Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga.Tiap keluarga merupakan masyarakat kecil,sebagai sebuah masyarakat,tentu didalamnya harus ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan dijalankan.Tiap anggota keluarga harus patuh kepada peraturan yang berlaku dalam keluarga.Dengan demikian orang sebagai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaannya mempunyai kewibawaan terhadap anggota keluarganya.Kewibawaan keluarga bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga.Tiap anggota keluarga harus tunduk kepada kewibawaan keluarga,selama ia menjadi anggota keluarga itu.
Kewibawaan guru dan tenaga kependidikan lainnya,sebagai pendidik bukan dari kodrat,melainkan karena jabatan yang diterimanya.Ia ditunjuk,diangkat dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh Negara atau masyarakat.Oleh karena itu kewibawaan yang ada padanyapun berlainan dengan kewibawaan orang tua.

a. Kewibawaan guru dalam pendidikan
Seperti halnya kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua,guru atau pendidik karena jabatan perkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik,telah diserahi sebagian dari orang tua untuk mendidik anak-anak.Guru atau pendidik karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka.Kewibawaan pendidikan yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya,dan setiap tahun berganti murid.
b. Kewibawaan pemerintah
Disamping memiliki kewibawaan pendidikan,guru atau pendidik karena jabatannya juga mempunyai kewibawaan memerintah.Mereka diberikan kekuasaan (gezak) oleh pemerintah atau instansi yang mengangkatnya.Kekuasaan (kewibawaan)

tersebut meliputi pimpinan kelas;disitulah anak-anaktelah diserahkan kepadanya.Bagi kepala sekolah kewibawaan lebih luas,Meliputi pimpinan sekolahnya.

2. Fungsi Kewibawaan
Pendidikan terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak didik.Sebab pergaulan antara orang dewasa sesamanya,orang menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruh-pengaruh pergaulan itu.Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak ,biarpun seringkali seorang anak menguasai dan diturut oleh anak –anak lainya,tetapi kekuasaan atau gazak yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gazak pendidikan,karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan.
Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan, jika didalamnya telah terdapat kepatuhan dari si anak, yaitu sikap menuruti atau mengikuti wibawa yang adapada orang lain; mau menjalankan suruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.
Satu-satunya pengaruh yang dapat dikatakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju kedewasaan sianak; untuk menolong anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya secara mandiri.
Tidak setiap macam tunduk atau menurut terhadap orang lain dapat dikatakan “ Tunduk terhadap wibawa pendidikan “ . lalu bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Longeveld menjelaskan dengan dua buah kata yaitu :
a. Sikap menurut atau mengikut, yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karna paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menurut yang sebenarnya.
b. Sikap tunduk dan patuh, yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu.
tampak bahwa fungsi wibawa pwndidikan adalah membawa sianak kearah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya.
3. Penggunaan kewibawaan oleh guru dan pendidk lainnya
Kewibawaan pendidikan yang dimaksudkan disini adalah yang menolong dan memeimpin anak kearah kedewasaaan atau kemandirian. Penggunaan kewibaaan oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya perlu didasarkan pada factor-faktor berikut:
a. Dalam menggunakan kewibawaan hendaklah didasarkan atas perkembnagan anak sebagai pribadi. Pendidik (guru) hendaklah mengabdi pada pertumbuhan anak yang belum selesai perkembangannya. Dengan kebijaksanaan pendidik, anak dibawa kearah kesanggupan menggunakan tenaganya dan pembawaaannya yang tepat. Wibawa pendidikan itu bukan bertugas memerintah, melainkan mengamat-amati serta memperhatikan dan menyesuaikannya kepada perkembangan dan kepribadian masing-masing anak.
b. Pendidik hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri. Kesempatan atau keleluasaaan itu hendaknya makin lama diperluas, sesuai dengan perkembanagan dan bertambahnya usia anak. Anak harus diberi kesempatan cukup untuk melatih diri untuk bersikap patuh karna sianak dapat bersikap tidak patuh. Jadi, dengan wibawa tuhendaklah pendidik berangsur-angsurmengundurkan diri sehingga akhirnya tidak diperlukan lagi. Mendidik anak bearti mendidik untuk dapat berdiri sendiri (mandiri).
c. Pendidik hendaknya menjalankan kewibawaannya atas dasar cinta kepada anak. Ini bearti berbuat sesuatu untuk kepentingan anak, bukannya memerintah atau melarang untuk kepentingannya sendiri. Cinta itu perlu bagi pekerjaan mendidik sebab dari cinta dan kasih saying itulah timbul kesanggupan selalu bersedia berkorban untuk sang anak, slalu memperhatikan kebahagiaan sianak yang sejati.

4. Kewibawaan dalam pendidikan
a. Kewibawaan dan pelaksaaan, kewibawan dalam keluarga, terutama dimaksudkan untuk melaksanakan berputarnya roda masyarakat kecil. Kebibawaan dalam keluarga ialah untuk membawa sianak kekedewasaannya; tahu norma-norma dan bersedia menyesuaikan hidupnya dengan norma-norma itu. Dalam pendidikan pelaksanaan kewibawaan tujuannya untuk norma-norma itu; dengan wibawa itu pendidik hendak membawa anak agar mengetahui, memiliki, dan hidup sesuai dengan norma-norma.
b. Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidkan harus bersandarkan peruwjudan norma dalam diri sipendidik. Oleh karna itu wibawa dan pelaksanaaannya mempunyai tujuan membawa anak ketingkat kedewasaan, yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma itu sendiri

5. Kewibawaan dan identifikasi
Bahwa tujuan dari wibawa dalam pendidikan adalah berusaha membawa anak kearah kedewasaannya. Ini bearti secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai hidup atau norma-norma ( seperti norma kesusilaan, keindahan, ketuhanan, dan sebagainya) dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya. Bagaimana norma-norma dan nilai identifikasi nilai hidup itu diterima dan dimiliki anak?Syarat mutlak dalam pendidikan adalah adanya kewibawaan pada pendidik. Tampa kewibawaan ,pendidik tidak akan berhasil baik.
Dalam setiap macam kewibawaan terdapatlah suatu identifikasi sebagai dasar. Artinya,dalam melakukan kewibawaan si pendidik mempersatukan dirinya dengan yang dididik,juga yang dididik,juga yang dididik mempersatukan dirinya terhadap pendidiknya. Dalam kaitan ini,identifikasi mengandung arti ,yaitu:
a. Si pendidik mengidentifikasakan dirinya dengan kepentingan dan kebahagian si anak. Ia berbuat untuk anak,karena anak belum dapat berbuat sendiri. Ia memilih untuknya;jadi untuk anaknya itulah yang mengambil tanggung jawab,yang semestinya menjadi tanggung jawab si anak sendiri. Jadi,si pendidik akan mewakili kata hati anak didiknya untuk sementara. Si pendidik memilih,mempertimbangkan,dan memutuskan untuk anak didiknya. Hal demikian dapat dipertanggung jawabkan ,dan memang perlu selama si anak belum dapat memilih,mempertimbangkan,dan mengambil keputusan untuk dirinya. Tetapi lambat laun campur tangan orang tua atau pendidik harus makin berkurang.
b. Si anak mengidentifikasikan dirinya terhadap pendidiknya. Identifikasi anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh tentu saja berlain-lain menurut perkembangan umurnya,menurut pengalamannya.
Ada dua kemungkinan cara mengidentifikasi oleh anak,
a. Ia dapat sama sekali melenyapkan dirinya menurut sempurna, tidak menentang;perintah dan larangan dilakukan secara pasif saja. Bahayanya adalah didalam diri anak tidak tumbuh kesadaran akan norma-norma,sehingga ia tidak akan mungkin sampai pada tingkatan “penentuan sendiri”,
b. Karena ikatan dengan sang pemegang wibawa (pendidik) terlalu kuat-erat,sehingga merintangi perkembangan “aku” anak itu. Tetapi ikatan yang sangat erat itu dapat menimbulkan usaha yang sangat aktif untuk mencapai persamaan dengan pendidiknya;berbuat seperti apa yang diharapkan dari pendidiknya,atau si anak ingin menjadi sang pemegang “wibawa” itu.
Anak yang menurut dapat memberikan gambaran gambaran seakan-akan kita mencapai hasil baik dalam pendidikan. Akan tetapi harus diingat bahwa si anak harus kita didik tidak saja dengan hak,melainkan dengan kewajiban membawa dirinya kesuatu tingkatan untuk makin dapat mandiri. Identifikasi si anak terhadap orang tua atau pendidik lambat laun harus dilepaskan dari sifat perseorangan,dan harus ditujukan kepada norma-normanya.
Kesimpulan,identifikasi pada diri seorang anak mulanya tertuju kepada diri pribadi pendidiknya,kemudian tertuju kepada nilai-nilai dan norma-normanya;kelak ia lebih melepaskan lagi dari diri pendidiknya,dan lebih lagi menunjukkan dirinya kepada nilai dan norma-norma itu. Jelas bahwa fungsi kewibawaan dalam pendidikan ialah membuat si anak mendapatkan nilai-nilai dan norma-norma hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Ngalim (1992). Ilmu pendidikan, Teoritis dan praktis. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sumber lain yang relevan Tim penyusun UNP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s