Impian Masa Kecil

By Joyolejar Firdaus Keen

“Hidup tak lebih dari tiga perkara anakku.Sepuluh prosen hitam, sepuluh prosen putih, dan delapan puluh prosen sisanya abu-abu.”

“Kamu akan pulang, bukan?” tanya istrimu dengan cemas. Kau hanya terpejam ragu.Pikiran itu membelenggumu seakan borgol berlapis baja mencengkeram erat tanganmu bahkan kakimu. Bagaimana jika kau menjawab Ya, pada hal kamu tak akan mampu menjamin semua itu? Bagaimana jika kau dengan tegas menjawab Tidak, sudah pasti akan menghancurkan serta mengecewakan segalanya. Dan bagaimana jika kau benar-benar pulang dengan membawa sebuah kecacatan.

“Aku akan baik-baik saja Slim” jawabmu akhirnya, dengan sebuah senyum yang menghias bibir keringmu.Kau lihat tatapan mata istrimu itu yang kehabisan obor.Mata bening itu layu, tak kuasa untuk menatap balik ke arahmu.Lalu terpejam untuk berpaling ke arah jendela menganga.

Sementara kau, kau tahu telah berbohong.Kau paham bahwa segalanya tak mungkin baik-baik saja namun tak kuasa untuk mengakuinya.Sepasang mata itu menatap ragu ke arah langit jauh di luar jendela.Kau ikut menatap birunya langit, memohon sebuah keajaiban datang menjemput.Biru itu tak menyajikan sebuah jawab.Dan kalian pun saling bertatapan.

Ya.Istrimu tak tega. Senyum itu hanyalah sebuah kebohongan……..

“Aku akan pulang Slim.Walau harus berdamai dengan keajaiban” jawabmu.Kau terlilit sejuta bimbang saat berucap janji itu.Sebimbang langkah kaki istrimu, sebimbang lautan mimpi yang mengguyurnya setiap malam.Layakkah menanam sebuah harap di tengah kebun keragu-raguan?Sungguh, sejatinya kau ingin merubah semua ini.Benar, kau ingin memberi kepastian terhadap istrimu. Betul, kau tak ingin mengecewakan raga istrimu nan ramping lagi sempurna.

Tetapi sejenak kau teringat kondisimu, tepatnya takdirmu.Di ranah Panti Lara, segala dokter berjas putih-putih, berwajah pintar lagi wibawa hanya menggeleng pelan tentang penyakitmu.Kalian tak pernah absen untuk bersua setiap minggu.Dokter tak henti-hentinya menyinggungmu tentang rokok, rokok, dan rokok.Semakin hari kau memikirkan pertemuan itu, semakin banyak yang telah menggerogoti ragamu. Sering kau terbatuk-batuk hingga mencecerkan darah keruh di lantai, dan kau terlalu sadar untuk tak mengakhirinya bertahun-tahun nan lampau.

“Di mana Papa Ma?Mengapa Papa tidak pulang?” Matamu berlinang tatkala Istrimu bercerita tentang kedua belahan jiwamu yang masih terlampau hijau untuk mengetahui takdirmu, lima hari yang lalu. Jika semua ini pasti kau akan menjawab, “Besok Papa akan pulang”. Namun kau hanya terpaku, menyerahkan semua jawaban itu teruntuk istrimu.Hari semakin menciut, embun-embun asa mulai kian menguap dan menguap.Menderekmu ke jurang peradaban untuk menguburmu dalam-dalam.

Sesungguhnya kau telah mengenal penyakit itu sejak lama.Bahkan sangat lama.Iklan, poster, tak cukup untuk mengingatkanmu walau kau cukup intelektual untuk mengindahkannya.Terlalu agung bagimu hanya untuk tergoda oleh rayuan iklan-iklan itu.Pertama kali, kau bertemu dengan seorang bocah di sebuah acara musik yang digelar oleh sebuah sekolah.Kalian berkenalan, bertukar sapa sembari menikmati alunan musik.Awalnya hanya sepatah dua patah kata yang terucap, dan kau terlalu suka untuk berteman dengannya.Awalnya hanya kacang atom dan minuman bersoda yang dia tawarkan.Kau tampak heran ketika dia mengulurkan sebatang rokok untukmu.Dia berkata, laki-laki mempunyai takdir, yaitu merokok.

Kau bersorak girang manakala tahun berikutnya kalian disatukan dalam sebuah sekolah menengah. Dia mengingatkanmu saat penerimaan raport kenaikan kelas, “Apakah kita masih berteman?”.Kau mengangguk, mengiyakan bahwa takdir itu adalah benar adanya tanpa sebuah perlawanan.Hingga tak terhitung lagi telah berapa masa kalian mengulang lagi mengulang memori festival itu.

Ah, semula segalanya amat sangat menggairahkan. Kau mendongak pelan, umurmu tak akan lama lagi…………

Ayahmu berteman dengan banyak lapisan.Kau meneruskan warisan itu dengan berkarib bersama orang-orang hebat.Kariermu membuat lawan serta kawanmu makhlum.Terlalu haram untuk tidak memberikanmu sebuah acungan jempol.Terlalu nyata di antara mereka bahwa kaulah yang terbaik.Waktunya telah datang bagi mereka untuk menjenguk berbagi belasungkawa. Memotong waktu, melintas jarak untuk memberimu masakan segar yang tak sempat diolah oleh istrimu. Bersilaturahmi membasuh luka. Kau terharu, berucap ribuan terima kasih nan tak terkira. Seperti mimpi bahwa semua itu terjadi tepat dihadapanmu yang tak berdaya.

Wajah seorang bankir yang kau idolakan menatapmu, lekat-lekat.Dia paham.Ketakutan yang selama ini dipendamnya akhirnya terjadi.Kau teringat bahwa dia sering bercerita tentang warna abu-abu. Semula cukup sulit bagi ranah intelektualmu mencerna apa maksud yang tersembunyi. Dan kau meyakini bahwa tak ada orang lain yang lebih tahu tentangmu kecuali dia.

“Aku salut kepadamu Hilman. Jika ini terjadi kepada aku mungkin aku akan sangat marah. Tetapi kau sangat tenang.Kariermu hebat, punya istri cantik, punya anak yang cerdas dan lucu.Kini semua itu direnggut saja dari tanganmu?” kata bankir itu.

Bankir itu hanya berdiri mengungkapkan rasa sedihnya, sesaat kemudian kau bertanya tentang abu-abu.Dia tersenyum kemudian menjawab, “Abu-abu adalah bagian dari warna putih, bukan warna hitam.Selama kita berada dalam warna putih, akan selalu ada cahaya sebagai harapan”.

Kau menerawang menembus jendela.Kau paham bahwa belumlah saatnya bagi belahan jiwamu untuk mengetahui semua ini.Namun istrimu, entah berapa depa hari lagi dia kuat untuk bertahan memikul beban.Inilah, sekaranglah saatnya untuk mematri dalam-dalam di lubuk hatimu, tentang sebuah kebangkitan.Tiba-tiba saja muncullah sebuah referensi yang telah lama kau pendam. Bahwa jika kau bangkit, semangatmu akan dibaca orang lain. Saat itulah mereka akan menolongmu. Ketika kau bersama orang-orang disekelilingmu, percayalah semua akan terasa ringan.

Adakah hari sebaik hari ini?Berulang lagi berulang kau ucapkan kalimat itu bersama senyum kemenangan.Kau tak perlu lagi khawatir.Kau buang jauh-jauh ketakutan yang berakar dari ketakutan kamu sendiri. Adakah menara-menara kekuasaan dan kesuksesan akan kau biarkan runtuh begitu saja? Tidak, tak akan kau biarkan mereka menang. Laramu berubah jadi dendam. Kau melecut, menyingsingkan lengan baju bertolak menuju masa depan bagai serdadu perang yang tak ingin kembali ke masa lampaumu.

Dokter membaca semangatmu.Wajahmu tak perlu lagi bermurung saat bersua. Ribuan orang terpana menyaksikan geliat semangatmu tatkala sebuah majalah terbitan ibu kota mewawancarai. Ke mana wajah murung itu? Kau bagai air terjun yang meruntuhkan bara api di puncak pegunungan.

“Anda tak takut mati?” tanya seorang wartawan.
“Saya hanya takut kepada prosesnya, dan apa yang saya tinggalkan setelah mati” jawabmu, jujur.

Ah, dulu kau pernah merasa gerah dan ingin pergi sejauh yang kau bisa. Kau ingin mencari tanah baru yang bisa membebaskanmu dari dera.Kini, kau sadar sepenuhnya bahwa tanah itu tak pernah ada.Di sinilah takdirmu.Walau kau ingin berlari atau tidak. Garis itu telah linier, tak peduli apa pun rumus empirik yang kau pakai.

Medan perang telah menyambutmu, dengan ramah.Kau paham bahwa inilah pertarungan yang ingin kau menangkan.Penyakit itu telah menjalar walau kau tak sedikit pun merasakan gejalanya.Kau ingin menjadi juara dengan memanfaatkan peluang yang amat tipis.Jika kemoterapi harus terjadi, terjadilah.Itulah musuh terberat yang harus kau tebas batang lehernya.

Semangatmu memapah raga yang telah kehilangan bobot puluhan kilo ke sebuah almari kenangan.Piala-piala itu menyapamu seakan tak bersua selama ratusan tahun.Padahal sepertinya baru bulan kemarin kau merebutnya dari lawan-lawanmu.Tergapailah sebuah piala yang membuat senyummu kembali terkembang.Piala kejuaraan ping pong antar pelajar yang kau raih dengan cucuran keringat, tenaga, bahkan air mata.Melebihi perjuangan piala-piala lain yang kau raih.Ya, inilah impian masa kecil yang menjadi kenyataan.Impian yang membuatmu kian hidup.

Teringat olehmu tatkala kau mengarak piala itu keliling sekolah.Betapa bangganya saat teman-temanmu memberimu gelar pahlawan sekolah. Kau luar biasa! Kau tak terbendung! Kau berteriak lantang, “Aku tak akan mati! Aku akan hidup selamannya!”.

Ah, semangat itu kembali berkobar. Mengerak di dada………

Jarak kau lahap, waktu kau tempuh.Telah muak kau dengan hanya terkulai di atas pembaringan bagai batu bisu tak berguna.“Aku lebih sehat dari orang yang paling sehat”, ucapmu, garang. Dokter tak kuasa lagi menolak untuk menghadangmu di atas meja ping pong. Sabetanmu masih segarang dulu, dan kau tak terkalahkan.

“Bagaimana anda mengendalikan semua ini?” tanya Dokter.
“Inilah, dengan menikmati semuanya tanpa mengeluh” jawabmu.
“Tapi anda sakit.Bagaimana anda bisa memukul bola itu?”
“Tidak Dok. Kanker ini justru membuat saya hidup”

Ya. Kau telah paham apa arti semua ini. Kau hanya ingin kedua belahan jiwamu mengerti kelak waktu membawa mereka ke gerbang kedewasaan suatu hari esok.

“Kamu akan pulang, bukan?” tanya istrimu dengan tersenyum. Kau tersenyum, tak lagi ragu.Menerawang alam nyata, melepaskan segala pikiran membelenggu. Kau tahu bahwa pada stadium ini dia tidak memerlukan jawaban Ya atau Tidak.

Sementara itu ucapan bankir idolamu masih lekat di telinga, “Hidup tak lebih dari tiga perkara anakku.Sepuluh prosen hitam, sepuluh prosen putih, dan delapan puluh prosen sisanya abu-abu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s