Hindari Bertengkar di Depan Anak

Padang Ekspres
Minggu 18 desember 2012

Pertengkaran orangtua di depan anak-anak dapat mempengaruhi psikologis anak. Apalagi jika pertengkaran itu melakukan tindakan fisik atau mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas untuk didengar anak. Seyogyanya, jika orangtua bertengkar tidak dilakukan di depan anak-anak. Pertengkaran orangtua, sudah pasti dapat mengganggu perkembangan jiwanya, bahkan tak mustahil pertengkaran tersebut dapat membuat anak mengalami traumatikmen dalam.
Tidak satupun anak yang suka melihat orangtuanya bertengkar. Pertengkaran yang terjadi antara orangtua akan membuat anak merasa tak nyaman dan tak betah di rumah. Dampak pertengkaran orang tua didepan anak Tanya berimbas pada anak-anak, namuan juga pada remaja yang beranjak dewasa.
Efek lain anak sering menyaksikan orang tua bertengkar adalah sikecil menjadi individu minder dan tidak percaya diri. Pasalnya, mendengar orang rua yang disayanginya bertengkar sangat melukai hati sikecil. Sikecil pun kerap kebingungan menempatkan posisi dimana harus berada, membela ibu atau ayah? Perasaan dilematis inilah yang kemudian mengganggu pemikirannya.
Dewi putri, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kmota padang mengaku kerap menyaksikan orang tuanya bertengkar. Bahkan tak jarang, saat orang tuanya bertengkar, orang tuanya mengeluarkan kata caci makian dan main pukul. Pertengkaran orang tuanya tersebut telah disaksikannya sejak duduk dibangku Sekolah Dasar.
“Setiap kali orang tua bertengkar didepan kami, saya sangat ketakutan. Apalagi kalau papa bertengkarnya sambil melemparkan barang. Saya hanya bersembunyi dibalik pintu kamar. Saya takut, kalau saya keluar kamar, maka saya akan dipukul”, ucapnya.
Pertengkaran orang tua yang kerap disaksikannya, membuatnya merasa minder. Ia merasa tak percaya diri, bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Bahkan untuk mengajak teman bertamu kerumah, ia tak bersedia. Ia khawatir jika temannya di rumah, kedua orang tuanya akan berantem.
“sebenarnya, saya ingin bilang ke orang tua bahwa perbuatan mereka bertengkar didepan anak-anak, telah membuat anak-anaknya sangat takut tapi saya tak punya keberanian untuk memprotes tingkah laku orang tua saya. Makanya saya pilih untuk kos saja, dibandingkan saya harus menyasikan setiap hari pertengkaranya,”ucapnya.
Katanya, saat ini ucapan makin yang kerap dilontarkan kedua orang tuanya saat bertengkar, ditiru adiknya. Tak jarang, meski adiknya baru SD namun ucapan yang dilontarkan adiknya, tak jauh berbeda dengan umpatan dan cacian yang dilontarkan orang tuanya, saat bertengkar.
Zawardi, warga koto tangah menyebutkan persoalan suami istri, pasti ada. Ia juga mengaku tak bias mengaku mengontrol emosinya saat sedang marah. Sehingga kendati anak-anak ada dirumah ia tetap saja bertengkar dengan istrinya didepan anak-anak.”saya akui, kalau saya memeng bertengkar dengan istri, ada juga didepan anak-anak. Tapi ada juga kami bertengkar saat anak-anak taka da di rumah. Saya sadar bertengkar didepan anak-anak salah, tapi kalau sudah kesal, saya tak dapat mengontrol emosi saya,”ucapnya.
Zawardi mengaku, pertengkaran dengan istrinya kerap terjadi karena alasan ekonomi. Sang istri kerap meminta jatah tambahan belanja bulanan.
“saya tak bias memberikannya. Saya minta dia membeli barang sesuai kebutuhannya saja., tapi istri justru mengomel saya nasehati seperti itu. Makanya, saya kesal dan terjadilah perang mulut dengannya. Tapi saya tak pernah melakukan aksi kekerasan fisik kepada istri sayadengan memukulnya,”katanya.
Lain lagi cerita Yanti, ia tidak pernah membiasakan anak-anaknyamenyaksikan pertengkaran ia dan suaminya. Jikapun kesal terhadap suaminya, ia hanya mendiamkan suaminya, sembari menuliskan pada secarik kertas bahwa ia tak suka dengan tingkah laku suaminya. Jika ia menyampaikan secara langsung, ia khawatir akan terjadi perang mulut dengan suaminya dan akan memberikan dampak psikologis terhadap perkembangan jiwa anak-anaknya. “semarah apapun saya pada suami, saya tak pernah memperlihatkannya kepada anak-anak,” ucapnya.
Ia menambahkan, hampir setiap pasangan suami istri mengalami persoalan dalam kehidupan rumah tangganya. Untuk itu, diperlukan kedewasaan orangtua dalam mengontrol emosinya. Perilaku orangtua akan sangat mudah ditiru anaknya. Jika orangtua kerap menggunakan kata-kata kasar, maka anak juga akan terbiasa menggunakan kata-kata kasar. Pendek kata, orangtua harus bias memberikan keteladanan karena keteladanan itulah yang akan ditiru anak.” Meski bertengkar dengan suami atau istri, tak perlu anak harus tahu,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s