TUGAS

PENGANTAR PENDIDIKAN

 
   

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

Pelsi Febriani                  (11060311)

 

Sesi:H

 

Dosen Pembimbing: IDA MURNI SAAN

 

 

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

STKIP (PGRI) PADANG  SUMATERA BARAT

2012

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang mana atas rahmatnya kami telah dapat menyelesaikan makalah ini untuk melengkapi tugas pengantar pendidikan.

            Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari tidak terlepas dari berbagai kesulitan, baik dari segi moril maupun materil terutama pengetahuan dan referensi yang sangat kurang dan tidak memadai. Untuk itu kami ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

            Selain itu kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.

            Akhirnya kami berharap mudah-mudahan makalah ini bermanfaat baik bagi kami maupun bagi pembaca.  

 

 

                                                                                    Padang,   januari 2012

 

                                    Penulis

 

 

 

 

i

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENGANTAR…………………………………………………………………………. 1

1.1 Latarbelakang…………………………………………………………………………… 1

2.1 Rumusan masalah……………………………………………………………………. 2

3.1Tujuan penulisan…………………………………….…………..…….2

4.1 Manfaat penulisan………………………………….…………..……..2

BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………………….. 2

 

2. MEMBACA UNTUK MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN……… 3

                

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………….. 7

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………. 7

3.2 daftar pustaka……………………………………………………………………………. 10

 

 

 

ii

 

BAB I

 

PENGANTAR

 

  1. a.    Latar belakang

Banyak cara yang bisa ditempuh agar seseorang memperoleh pengetahuan.salah satunya yang sering dilakukan adalah melalui membaca. J.P.Chaplin (2006) memberikan rumusan membaca sebagai “persepsi visual dari kata-kata beserta artinya”.devinisi ini tampaknya lebih menekankan pengertian membaca sebagai kegiatan seseorang yang memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual,seperti buku,artikel,Koran dan sebagainya, dengan menggunakan mata atau pandangan sebagai alat utamanya. Jika diperluas lagi, pengertian membaca disini sebenarnya tidak hanya persepsi visual terhadap bentuk rangkaian kata-kata (verbal) tetapi juga dapat berbentuk simbol-simbol lainnya,seeperti angka, gambar, diagram, table yang didalamnya memiliki arti dan maksud tertentu.

 

 

  1. b.    Rumusan masalah

Pada zaman sekarang banyak orang yang tidak mau membaca dikarnakan semuanya sudah maju seperti mencari tugas tidak lagi mencari dan membaca buku tapi dengan membuka google semua yang dicari ada jadi Cuma perlu copas (copy paste)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. c.    Tujuan penulisan 

Agar setiap manusia mau melakukan aktivitas membaca.tingkatan nya adalah:

  1. Untuk anak TK sekurang-kurangnya membaca 2 baris satu hari
  2. Untuk anak SD sekurang-kurangnya membaca 1 halaman
  3. Untuk anak SMP sekurang-kurangnya membaca 2 halaman
  4. Untuk anak SMA sekurang-kurangnya membaca 5 halaman
  5. Untuk Mahasiswa sekurang-kurangnya membaca 10 halaman

 

  1. d.    Manfaat penulisan

Agar siapapun yang membaca makalah ini mau melakukan aktivitas membaca, seseorang dapat mengenal suatu objek , ide prosedur, konsep, devenisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi , seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membaca untuk pengembangan pengetahuan

 

Banyak cara yang bisa ditempuh agar seseorang memperoleh pengetahuan.salah satunya yang sering dilakukan adalah melalui membaca. J.P.Chaplin (2006) memberikan rumusan membaca sebagai “persepsi visual dari kata-kata beserta artinya”.devinisi ini tampaknya lebih menekankan pengertian membaca sebagai kegiatan seseorang yang memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual,seperti buku,artikel,Koran dan sebagainya, dengan menggunakan mata atau pandangan sebagai alat utamanya. Jika diperluas lagi, pengertian membaca disini sebenarnya tidak hanya persepsi visual terhadap bentuk rangkaian kata-kata (verbal) tetapi juga dapat berbentuk simbol-simbol lainnya,seeperti angka, gambar, diagram, table yang didalamnya memiliki arti dan maksud tertentu.

Melalui aktivitas membaca, seseorang dapat mengenal suatu objek , ide prosedur, konsep, devenisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi , seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian tertentu.

Adalah hal yang keliru jika memandang aktivitas membaca seolah-olah hanya “milik orang-orang sekolahan”,sehingga orang-orang yang tidak bersekolah dianggap tidak perlu lagi melakukan aktivitas  membaca.

Membaca pada dasarnya milik semua orang dan siapapun dapat melakukan nya. Demikian juga dengan bahan yang di bacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang “serba serius”, dalam arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat berupa hal-hal yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu seseorang, missalnya untuk memperoleh informasi tentang hasil pertandingan sepak bola, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi pada suatu saat tertentu.

 

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi,aktifitas membaca tidak hanya dilkakukan melalui tulisan yang disajikan di atas kertas, tetapi juga dapat dilakukan melalui tulisan elektronis, yang mungkin dalalm penyajiannya akan jauh lebih menarik dan atraktif.

Secara psikologis, aktivitas membaca senantiasa melibatkan aspek fisik motoric,seperti, kondisi mata yang akan menentukan jarak pandang, posisi duduk, gerak tangan, kondisi kesehatan, dan sebagainya. Selain itu, dalam aktivitas membaca akan melibatkan pula aktivitas psikis, terutama aktivitas kognitif dan efektif. Aktifitas kognitif diantaranya berkaitan dengan upaya untuk mengasimilasi dan mengakomodasi kata-kata atau gambar (informasi) yang sedang di persepsinya (teori kognitif piaget). Seseorang akan lebih mudah mencerna suatu bacaan apabila bacaan tersebut memiliki kesesuaian dengan struktur atu skema kognitif yang telah dimiliki sebelumnya. Seorang ahli  pendidikian cendrung lebih cepat menangkap arti dan makna yang terkandung dalam sebuah tulisan atau bacaan tentang pendidikan, karna besar kemungkinan isi bacaan tersebut memiliki kesesuaian dengan struktur atau skema kognitif yang telah dimilikinya. Namun, jiak dia harus membaca buku atau tulisan diluar keahliannya, mungkin dia akan mengalami kesulitan tersendiri untuk menangkap  isi yang terkandung dalam tulisan

Sedangkan aktifitas afektif diantaranya berkaitan dengan senang tidak senang atau penting tidak pentingterhadap apa yang akan atau sedang dibacanya. Jika seseorang merasa senang dan termotivasi untuk mengetahui isi suatu bacaan, maka dia cendrung untuk memberikan intensitas yang lebih tinggi untuk mempersepsi setiap isi tulisan yang ada. Seseorang yang kurang termotivasi untuk memperoleh pengetahuan biasanya cendrung jarang melakukan aktivitas membaca. Jangankan membaca tulisan yang serba serius, untuk membaca yang ringan-ringan pun cederung kurang atau tidak tertarik sama sekali.

 

 

 

Banyak alasan kenapa seseorang tidak termotivasi untuk membaca, mulai dari ketidakmampuannya untuk menangkap tulisan (daya ingat menurun) sampai dengan alasan sibuk tidak memiliki waktu atau kurangnya sumber bacaan karena alasan ekonomi. Celakanya, hal ini kadang-kadang atau mungkin sering terjadi justru dikalangan siswa/mahasiswa atau para guru yang sesungguhnya kepada mereka di tuntut untuk memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bidang yang sedang dipelajari atau diajarkannya.

Mungkin kita bisa bertanya kepada para siswa/mahasiswa apakah mereka memiliki buku untuk setiap mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan. Pasti akan ditemukan siswa/mahasiswa yang tidak memiliki buku untuk mata kuliah atau mata pelajaran tertentu. Betapa pentingnya membaca buku dikalangan siswa/mahasiswa sehingga dibeberapa Negara majudalam kegiatan pembelajaran telah menekankan kewajiban minimal membaca beberapa buku kepada para siswanya untuk suatu mata pelajaran tertentu. Selanjutnya, kepada mereka diminta untuk menceritakan kembali inti atau pokok-pokok kandungan dari buku yang telah dibacanya. Hamper bias dipastikan , semakin banyak buku yang wajib dibacanya, semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya.

Kita juga bisa bertanya kepada para guru, berapa buku yang dimiliki dan pernah dibacanya berkaitan dengan kegiatan pengembangan kurikulum saat ini. Niscaya, kita akan menemukan guru yang sudah sekian lama tidak lagi membaca buku-buku yang terkait dengan mata pelajaran yang ditempuhnya, sehingga bahan ajar yang diberikan kepada para siswa pun hanya berupa pengetahuan peninggalan masa lampau, yang mungkin sudah tidak selaras lagi dengan tuntutan perkembangan saat ini. Selanjutnya kita bisa memprediksi sendiri, seperti apa produk pendidikan yang dihasilkan oleh guru yang kurang membaca semacam ini.

 

 

 

Terkait dengan proses pembelajaran disekolah/diperguruan tinggi, meski saat ini proses pembelajaran lebih cenderung mengedepankan pendekatan kontekstual, namun bukan berarti pendekatan pembelajaran lebih cendrung mengedepankan pendekatan kontekstual, namun bukan berarti pendekatan pembelajaran tekstual diabaikan. Pembelajaran tekstual melalui pengkajian berbagai buku, jurnal dan bentuk-bentuk karya tulis lainnya, baik yang disajikan diatas kertas maupun elektronis, masih tetap diperlukan terutama untuk kepentingan pengembangan pengetahuan (kognitif) siswa/mahasiswa. Untuk itulah para siswa/mahasiswa seyogyanya didorong untuk memiliki kegemaran membaca dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan utama. Dalam hal ini, tentu saja sekolah/perguruan tinggi seyogyanya dapat memberikan kemudahan bagi para siswa/mahasiswa dan guru/dosen dengan menyediakan sumber-sumber bacaan yang lengkap dan beragam, baik yang tersedia di perpustaan maupun yang tersedia secara on line

Anggaran untuk penyediaan buku-buku dan kemudahan akses internet tampaknya perlu menjadi perhatian utama di sekolah. Ketersediaan buku-buku yang lengkap serta kemudahan mengakses internet tampaknya bisa dijadikan sebagai salah satu indicator sekolah yang baik untuk mengukur kinerja sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  PENUTUP

  1. A.   Kesimpulan

Membaca pada dasarnya milik semua orang dan siapapun dapat melakukan nya. Demikian juga dengan bahan yang di bacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang “serba serius”, dalam arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat berupa hal-hal yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu seseorang

Banyak alasan kenapa seseorang tidak termotivasi untuk membaca, mulai dari ketidakmampuannya untuk menangkap tulisan (daya ingat menurun) sampai dengan alasan sibuk tidak memiliki waktu atau kurangnya sumber bacaan karena alasan ekonomi. Celakanya,Secara psikologis, aktivitas membaca senantiasa melibatkan aspek fisik motoric,seperti, kondisi mata yang akan menentukan jarak pandang, posisi duduk, gerak tangan, kondisi kesehatan, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

                        Surat kabar wahana media.

                        Cerdas-lugas-tangkas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s